<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Permasalahan Data Panel Dengan Variabel Tenggat Terikat

Oct 29, 2011 0 comments
Model data panel yang melibatkan variabel tenggat terikat memiliki beberapa hal yang tidak sesuai dengan asumsi klasik. Salah satu di antaranya adalah adanya autokorelasi akibat keberadaan variabel tenggat Yit yaitu Yit-1 di antara variabel penjelas, dan heterogenitas akibat perbedaan di antara unit analisis yang dalam hal ini adalah bank. Karena Yit merupakan fungsi dari ηi maka Yit-1 juga merupakan fungsi dari ηi sehingga terdapat korelasi antara variabel penjelas dan residual. Hal ini menyebabkan estimator OLS dan estimator-estimator konvensional untuk persaman simultan (termasuk 2SLS) menjadi bias dan tidak konsisten walaupun tidak terdapat korelasi serial dalam uit (Baltagi, 2001: 129-130). Transformasi dengan menggunakan first difference dapat menghilangkan heterogenitas namun tetap menyisakan masalah korelasi antara variabel penjelas dan residual. Dalam kondisi seperti ini, bias tetap terjadi walaupun estimator GLS digunakan. Korelasi tersebut tidak dapat dihilangkan dengan meningkatkan jumlah sampel.

Alternatif lain adalah model dapat diestimasi dengan menggunakan within group estimator (fixed effect) yang mengeliminasi sumber inkonsistensi yang berkenaan dengan penggunaan OLS melalui transformasi persamaan untuk menghilangkan ηi, namun dalam data panel saat jumlah periode yang diteliti tidak terlalu panjang, transformasi ini akan mendorong terjadi korelasi antara variabel tenggat terikat yang telah ditransformasi dan variabel penjelas yang telah ditransformasi. Hal ini dapat menyebabkan bias (Hsiao, 1986). Penambahan jumlah sampel tidak akan menghilangkan korelasi yang terjadi sehingga within group estimator tetap tidak konsisten (Nickell, 1981). Meskipun demikian bias yang terjadi saat periode waktu mendekati tak terhingga akan menghilang. Saat periode waktu meningkat, kontribusi tiap-tiap periode terhadap rata-¬rata individu menjadi kecil mengakibatkan korelasi yang terjadi karena transformasi akan hilang. Oleh karena itu, estimator yang konsisten seharusnya terletak di antara OLS dan within group estimator. Sebagai konsekuensinya, analisis dengan menggunakan Generalized Method of Moment (GMM) diperlukan.

Generalized Method of Moment Difference (GMM-diff) dikembangkan oleh Holtz-Eakin et.al. (1988) dan Arellano dan Bond (1991). Estimator GMM-diff menggunakan persamaan first difference. Transformasi ini akan menghilangkan ηi serta memungkinkan variabel-variabel tenggat endogen pada periode kedua dan sebelumnya untuk menjadi variabel instrumen yang tepat asalkan tidak terdapat korelasi serial pada random error (Oliveira dkk, 2005). Hal itu dapat diuji dengan menggunakan uji untuk korelasi serial untuk residual dalam bentuk first difference. Selanjutnya pada tahun 1998, kelemahan dari estimator GMM-diff mulai dibicarakan lebih lanjut. Jika variabel instrumen yang digunakan lemah, maka parameter yang dihasilkan oleh GMM-diff akan tetap mengalami downward bias.

Untuk mengoreksi kelemahan estimator GMM-diff, maka Blundell dan Bond (1998) mengusulkan agar persamaan dalam first difference harus dikombinasikan dengan persamaan dalam bentuk level agar instrumen yang digunakan harus tetap ortogonal terhadap ηi. Variabel terikat dalam bentuk level seharusnya berkorelasi dengan ηi sehingga memerlukan situasi yang mengijinkan adanya korelasi antara variabel penjelas dan ηi. Selanjutnya Blundell dan Bond (1998) juga menekankan bahwa dalam model autoregressive distributed lag, seri dari first difference dapat tidak berkorelasi dengan ηi asalkan saja seri tersebut memiliki rata-rata yang stasioner. Hal ini menjadikan lagged first difference dapat digunakan sebagai instrumen pada persamaan dalam bentuk level. Ketepatan instrumen yang digunakan dapat diuji dengan Sargan test of overidentifying restrictions.

Value Relevance dan Environmental Accounting

Oct 28, 2011 0 comments
Berawal pada Amir dan Lev (1996), sebagian besar badan literatur akuntansi mengeksplorasi value relevance dari informasi non keuangan. Kesimpulan umum yang berkembang dari penelitian tersebut adalah informasi akuntansi (keuangan) dan investasi fundamental yang terkait seperti arus kas dan laba tidak terpisah menjelaskan variasi dalam return saham. Barth dan McNichols (1994) serta Hughes (2000) berargumen bahwa indikator non keuangan kinerja lingkungan memiliki komponen kewajiban tak tercatat yang dinilai oleh pasar modal. Lebih jauh, Daniel dan Titman (2006) menunjukkan bahwa future earning tidak terkait dengan ukuran akuntansi tradisional dari kinerja masa lalu (seperti earnings dan book values), yang didefinisikan sebagai informasi tangible. Selanjutnya, return saham dijelaskan oleh adanya intangible information tentang kinerja masa depan, yang independen dari kinerja masa lalu.

Partumbuhan gap antara nilai pasar dari saham perusahaan dan nilai bukunya berlanjut menjadi isu penting yang sangat ekstrim dalam perdebatan akademik.Selama beberapa dekade, pertumbuhan yang cepat dari investasi pertanggung jawaban social telah meningkatkan kesadaran investor pada informasi keuangan yang ekstra berkaitan dengan isu environmental, social and governance (ESG) (Renneboog et al., 2008; Brammer et al., 2006). Sejumlah peningkatan studi akademis telah berargumen bahwa informasi ESG membantu investor untuk menilai asset tak berwujud (intangible assets) yang tidak diakui dalam biaya historis berdasar laporan keuangan. Extra-financial information yang diungkapkan melebihi peraturan regulator dan legislasi mencakup kinerja pada nilai penggerak yang berbasis laba keuangan masa depan.

Environmental/social performance mempengaruhi return saham secara langsung melalui penggunaan sumber daya manusia dan materi yang efisien, atau tidak secara langsung melalui image yang positif terhadap nasabah, supplier, dan komunitas (Brammer et al., 2006; Orlitzky et al., 2003). Walaupun literarur pada hubungan antara financial dan environmental/social performance sedang berkembang, terdapat keterbatasan bukti penelitian yang memfokuskan pada penggabungan kembali konstruk corporate environmental/social responsibility dalam rangka mendalami pemahaman ada atau tidaknya nilai pasar perusahaan yang dipengaruhi oleh kriteria non keuangan dan bagaimana keterkaitannya.Oleh karena itu diusulkan bahwa market value perusahaan akan merefleksikan kinerja financial dan nonfinancial environmental/social mereka.

Financial performance tidak berjalan sendiri dalam menjelaskan market value perusahaan, tetapi value relevance dari informasi laporan keuangan dapat dilengkapi jika dikombinasikan dengan informasi environmental/social information yang dihimpun dari opportunities ratings. Dalam instilah research settings, secara berhubungan erat pada studi tentang value relevance dari informasi non-financial environmental dalam Hassel et al. (2005), yang menguji value relevance dari environmental performance sebelum 1990. Hasil mereka mengungkapkan bahwa environmental performance secara negatif berhubungan dengan market value of equity dalam periode waktu dengan menggelembungkan market premiums dalam sektor tertentu.

Dalam studi terdahulu konstruk multidimensi yang mengukur kinerja perusahaan dari dimensi ESG yang luas digunakan (Derwall dan Vermijmeren, 2008; Scholtens dan Zhou, 2008). Pengaruh dari atribut gabungan tersebut adalah bahwa ESG pada level agregat tidak berkaitan dengan ukuran market value measures dan karenanya memfokuskan perhatian pada aspek yang salah dan menghasilkan inferensi yang tidak tepat. Studi ini memberikan bukti empiris dengan menggunakan GES-Investment services opportunity rating selama periode 2000-2010 untuk environmental and social indexes serta subdimensinya.

FINANCIAL DEVELOPMENT AND ECONOMIC GROWTH IN INDONESIA

0 comments
Economic growth has been becoming dominant orientation in development implementation nearly in almost all countries in the world. Economic growth itself can not be separated from the role of financial system. Some studies empirically prove that there is significant relationship between development of financial system and economic growth. Countries with low earnings usually have a very primitive financial system. By this system, most of the roles of financial sectors are performed by commercial banks. Possibly well financial markets unable don’t grow nor even exist. On the other side, countries with high earnings usually have more complex financial system acting as intermediation among members and various financial trading.

A dynamic and healthy economics requires financial system having a capability to deliver fund efficiently from depositing community to public having productive investment opportunities (Mishkin, 1995). In the theory of Endogeneus Growth presented by Solow it is said that running of good financial system function is expected to push the improvement of physical capital and also human capital (Zulverdi, Syarifuddin, and Prastowo, 2005:1).Hamilton (1781) argues that banks are the best engines which have ever been invented for creating economic growth. Others, however, question wheter finance exerts a first-order, causal impact on economic activity (Robinson 1952; Lucas 1988). However, financial system is claimed not only to be able to implement its functions well, but also to have high resistence.

The history of world economic development wich always teaches economic crisis happening in a country or international scale, always begins with a crisis in financial sector. Like economic crisis knocking Indonesia in 1997, because of the low economic system resistence, Indonesia financial system dominated by banking can not bear the negative impact arising from exchange rate crisis. At the time the level of Indonesian proverty increased 40,3 percent. The level of economic growth in Indonesia decreased 13,1 percent. Since then, Indonesia has been having relatively low economic growth, only around averagely 4,5 percent in a year (Kuncoro, 2009).

Without financial system resistence, economic development process which has been running in long time can fall to pieces in a second. The development of well functioning financial system and with high resistence is a well supporting action for the recovery acceleration of Indonesian economic as a developing country. In 2008 economic growth could achieve 6,1 percent, which is the highest record after economic crisis in 1998 (Kuncoro, 2009). In next five years, the Goverment will stimulate economic growth in a range of 6,3 percent - 6,8 percent a year. To achieve this target, the goverment needs 30 percent the investatment from GDP (Gross Domestic Product). Based on the calculation from Kadin, to achieve the target, the fund needed is afford 2,910 quintillion rupiahs (Sunarsip, 2010).

In relation to that, one of debatable aspects in economic system development is the influence of financial system structure towards economic growth. Some results of researches have proved that monetary system development is closely related with level of investment and economic growth. Various theoretical models (Levine, 1997; Beck et. al., 2001; Wachtel, 2001) explain the relationship between financial system type with level of investment and economic growth. Theoretical model from Dewatripont and Maskin (1995) present that decentralization of economic system, consisting of many small banks, more effectively pushes investment compared to decentralization of financial system, consisting of few big banks. The theory is also supported by Burkhart, Gromb and Panunzi (1997), where concentration of ownership of bank easily influences commitment of investor to push the investment.

Huang and Xu (1999) expresses that big banks give credit concentrated in industry with low level of uncertainty and artificial investment. According to Schumpeter (1911), enterpreneurship and banking are two key sources of economic development. Bankers provides loans to the most productive entrepreneurs who play roles pushing growth. Gerschenkron (1962) submits hypothesis connecting economic "retrogression" with financial. He observes English as pioneer of industrialization, Germany as moderate backwardness and Russia as extreme backwardness. From this classification, Gerschenkron (1962) finds that in English, private companies supply enterpreneurship and capital to banking. In Germany, bank supply enterpreneurship and finance private companies. In Russia, the source of enterpreneurship and financial is supplied by government to private companies. Gerschenkron hypothesis (1962) states that governments of developing countries start and finance industrialization and then banks finance their own financial at the next phase. Taiwan, Korea, Singapore, China and other developing countries possibly follow this evolution for examples.

Although the strong relationship between financial and economic development has been identified by a set of cross country study, the causal relation between both of variables in time series context doesn't grow well, until Patrick research (1966: 174) mentions that there is "improvement of number and varieties of financial institution and substantial increase of not only money proportion but also total of all financial assets to GNP and to tangible wealth" during the time of economic development. Basically, there is a question, if Financial development pushes economic growth, or it simultaneously is influenced by some factors.

Patrick (1966: 174) submits two hypothesis as to test the causality. He defines as "demand following" phenomenon where "forming of modern financial institution, asset, financial leverage and related financial service of the institution is as demand response of services by investor and depositor in real economic". Farther he emphasizes that "in evolutionary, development of financial system is continuation consequence from process having an big effect to economic development." This implicates that economic growth precedes financial development in time series context. On the contrary, Patrick (1966: 175) state that "supply leading" phenomenon as "forming of financial institution and supply asset and related financial leverage and service as the increase of service demand, especially demand of the entrepreneurs at sector influencing growth". Further Patrick (1966: 177-178) explains how supply leading, in financial system can accelerate capital accumulation and economic growth.

First, financial institution can push allocation of total numbers of tangible wealths which is as more efficient (capital in wide meaning), by bringing change in the ownership and in the composition through intermediation among various types of asset holder. Second, financial institution can push allocation of new investment to capital stock which is more efficient from usage that is relatively less productive to be more productive, with intermediation between depositors and entrepreneur investors. Third, they can push improvement of capital accumulation by providing more incentives to deposit, invest and work.

Patrick (1966: 185) concludes that "development of financial system not only accommodates but even pushes growth". In this cognition, Financial development causes economic growth, and implicates that Financial development precedes economic growth in time series context.The endogenous economic new growth theory (Romer, 1986, 1990) has given new motivation to the relation between growth and financial development like models that assuming savings behavior directly influences not only the equilibrium of income but also level of growth (Greenwood and Jovanovic, 1990; Bencivenga and Smith, 1991). Thereby financial market has strong influence in real economic activity. Hermes (1994) states that the financial liberalization and new growth theory basically assumes that financial development pushes economic growth.

Al-Ma'rij

0 comments
Sebuah panggilan setiap saat berkumandang dari langit: “Dan sungguh, Kami benar-benar meluaskannya” (QS. 51: 47). Yang mendengarnya setiap saat, namun bukan dengan telinga? “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang mengabdi, yang bertahmid, yang berjalan (karena Allah), yang ruku’, yang sujud” (QS. 9:112).

Carilah tangga “dari Allah, pemilik Al-Ma’arij (tempat mi’raj)” (QS. 70:3), lalu naiklah! Tangga yang “Al-Malaa’ikat dan Ar-Ruuh naik (kepada-Nya) dalam satu hari.” (QS. 70:4). Siapakah yang sanggup, dari bahan khayalan kita, mampu membuat nyata tangga ke langit itu?

Tangan “Kepada Kami segala sesuatu akan kembali.” -lah yang membuat mereka mi’raj. (QS. 21:93). Ketika pahat sabar dan syukur telah selesai menatah kita, mi’raj-lah, dan ucapkan, “dan itu tak akan diperoleh, kecuali oleh Ash-Shaabiruun.” (QS. 28:80).

Saksikan, siapa sesungguhnya yang memegang pahat-pahat itu. Lalu pasrahkan diri kita dengan gembira!

Jangan kita lawan pahat itu, seperti tali para penyihir Fir’aun (yang menjadi ular), ingatlah nasib mereka yang mengatakan, “dengan kuasa Fir’aun, sungguh kami benar-benar akan menang.” (QS. 26:44). Majulah beberapa langkah lagi, maka kita akan menjadi “Ashabul Yamin (golongan kanan)” (QS. 56:27).

Dan jika kita telah sampai pada batas tertinggi kita, kita adalah “As-Saabiquunas-Saabiquun (yang paling utama dari golongan yang utama)” (QS. 56:10). Jika kita berasal dari tempat para kekasih-Nya di langit, maka datanglah! Dan masuklah ke dalam shaf “Sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf” (QS. 37:165).

Jika kita miskin, tabuhlah genderang “Kemiskinan adalah jubahku”. Jika kita seorang faqih, jagalah agar kita tidak termasuk kedalam “mereka adalah kitam yang la-yafqihuun (tidak memahami)” (QS. 8:65). Jika kita telah menjadi nun yang bertekuk lutut seperti qalam yang bersujud, Maka kita termasuk ke dalam “apa yang mereka tulis” dalam “Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.” (QS. 68:1).

Jadilah mata yang melihat dalam “kelak kamu akan melihat”, kepada mereka yang ada dalam “mereka pun akan melihat.” (QS. 68:5). Bahkan jika kita “bersikap lunak” bagai penjilat, namun apa artinya itu bagi “mereka yang bersikap lunak (pula kepadamu)?” (QS. 68:9; “Maka mereka ingin agar kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).”). Hunjamkan akar kita kuat-kuat, seperti pohon Sidrah yang “tiada keraguan di dalamnya.” (QS. 2:2). Jagalah dedaunan dan batang kita dari goyah karena tiupan nafas “yang kami tunggu-tunggu hingga kecelakaan menimpanya.” (QS. 52:30). Lihatlah kebun yang menjadi arang dalam “malapetaka (yang datang) dari Rabb-mu”, tipu dayanya menghanguskan kebun mereka “ketika mereka sedang tidur.” (QS. 68:19).

Dikutip dari Nargis Virani: “I am the Nightingale of the Merciful”: Rumi’s Use of the Qur’an and Hadith.