<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Market Risk Research

Jan 2, 2012 0 comments
Terdapat dua aliran penelitian tentang eksposur risiko pasar. Studi dalam aliran pertama menetapkan bahwa harga saham adalah sensitif terhadap perubahan suku bunga, nilai tukar, dan harga komoditas. Mereka juga menilai tingkat hubungan cross-sectional antara sensitivitas harga saham dengan perubahan nilai pasar/harga dan keterbatasan jumlah informasi risiko pasar yang tersedia pada penelitian sebelum FRR No. 48. Aliran kedua secara khusus membahas manfaat informasi yang dimandatkan oleh FRR No. 48.

Lima penelitian dalam aliran pertama berhubungan dengan studi ini. Schrand (1997), dengan menggunakan data regulator swasta, menunjukkan bahwa lembaga tabungan dan pinjaman menggunakan tingkat suku bunga derivatif dalam mengurangi sensitivitas harga ekuitas mereka terhadap perubahan tingkat suku bunga. Tufano (1998), menggunakan analyst-generated informasi prifat, menunjukkan bahwa harga komoditas hedging merendahkan sensitivitas harga saham tambang emas terhadap perubahan harga emas. Jorion (1990), dengan menggunakan pengungkapan publik, menemukan bahwa sensitivitas harga saham perusahaan terhadap harga dolar AS dari perdagangan tertimbang mata uang asing lebih besar pada perusahaan-perusahaan dengan operasi asing yang lebih tinggi. Bartov dan Bodnar (1994) mencatat bahwa pasar tidak sepenuhnya memasukkan informasi tentang sensitivitas perusahaan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing sampai sensitivitas tersebut mempengaruhi laporan laba akuntansi. Hasilnya menunjukkan bahwa pengungkapan publik tentang luasnya operasi asing hanya memberikan ukuran yang tidak lengkap dari sensitivitas risiko mata uang perusahaan. Terakhir, Wong (2000) mencatat bukti yang lemah dan tidak konsisten hubungan antara sensitivitas harga saham perusahaan terhadap perubahan nilai tukar dan posisi derivatif yang dilaporkan sesuai dengan persyaratan SFAS No 119 (FASB 1994d).

Studi dalam aliran penelitian pertama menunjukkan bahwa return sekuritas sensitif terhadap perubahan nilai pasar/harga. Mereka juga menunjukkan bahwa, sebelum FRR No. 48, sensitivitas harga saham perusahaan pada perubahan nilai pasar/harga dikaitkan dengan keterbatasan jumlah informasi risiko pasar industri spesifik. Namun, konsisten dengan review SEC tentang pengungkapan publik, mereka menemukan bahwa informasi SFAS No 119 tidak begitu berguna bagi investor. Tak satu pun dari studi tersebut memfokuskan pada kegunaan informasi FRR No. 48. Namun, Schrand (1997), yang menggunakan data regulator yang sama dengan pengungkapan tabular FRR No. 48, menunjukkan bahwa Disclosure FRR No. 48 mungkin berguna bagi investor. Demikian pula, Wong (2000) menunjukkan bahwa pengungkapan yang lebih komprehensif yang disyaratkan oleh FRR No. 48 adalah lebih baik dalam menggambarkan eksposur risiko pasar perusahaan dan mengatasi beberapa permasalahan defisiensi yang diidentifikasikan dalam informasi SFAS No. 119.

Literatur aliran kedua yang terkait, mencakup empat studi yang secara eksplisit memeriksa kegunaan informasi FRR No. 48. Namun, tiga dari yang pertama tidak menggunakan informasi aktual FRR No. 48. Selanjutnya, mereka mengembangkan proxy untuk Disclosure FRR No. 48 atas dasar informasi bahwa pengungkapan perusahaan minyak dan gas serta bank sebelum FRR No. 48 menjadi efektif. Untuk sampel penghasil minyak dan gas, Rajgopal (1999) membangun proxy untuk pengungkapan tabular dan pengungkapan sensitivitas FRR No. 48 dari pengungkapan cadangan nilai wajar (SFAS No. 69, FASB 1982) dan jumlah derivatif yang tidak tetap (SFAS No 119, FASB 1994d). Dia melaporkan hubungan positif antara proksi Disclosure FRR No. 48 dan sensitivitas return saham perusahaan pada perubahan harga minyak dan gas. Rajgopal dan Venkatachalam (2000), untuk sampel dari 25 indutri kilang minyak, menilai hubungan cross-sectional antara sensitivitas laba dan sensitivitas return pada harga minyak. Mereka menemukan hubungan positif antara proksi Disclosure sensitivitas laba FRR No. 48 dan persepsi pasar tentang eksposur risiko. Ahmed et.al. (2000) menguji maturity gap disclosure bank komersial. Mereka menemukan bahwa pengungkapan tersebut berguna dalam memprediksi perubahan net interest income bank. Terakhir, Thornton dan Welker (2000) menguji pengaruh pengungkapan aktual FRR No. 48 tentang penilaian pasar terhadap sensitivitas harga saham perusahaan pada perubahan harga minyak dan gas. Mereka menemukan bahwa penghasil minyak dan gas mengungkapkan analisis sensitivitas atau perubahan sensitivitas harga saham VAR experience lebih besar dari perubahan sensitivitas harga minyak dan gas pasca FRR No. 48 kemudian mentabulasi perusahaan disclosers dan nondisclosers.

Singkatnya, aliran kedua penelitian ini menunjukkan bahwa pengungkapan risiko pasar FRR No. 48 memberikan informasi yang berguna bagi investor. Namun, bukti-bukti sampai saat ini didasarkan pada sebagian besar proksi untuk informasi FRR No. 48, dan terbatas untuk perusahaan minyak dan gas serta industri perbankan. Sebaliknya, penelitian ini menguji efek pasar pengungkapan aktual FRR No. 48, dengan menggunakan sampel perusahaan non finansial yang luas. Selain itu, penelitian saat ini terutama menguji hubungan antara sensitivitas harga saham terhadap perubahan nilai pasar/harga dan informasi eksposur risiko pasar. Sebaliknya, penelitian ini menguji sensitivitas volume perdagangan harian pada perubahan nilai pasar/harga. Pada bagian berikutnya, penelitian ini menjelaskan mengapa sensitivitas tersebut berhubungan positif dengan ketidakpastian dan keragaman pendapat investor tentang eksposur risiko pasar perusahaan, dan mengapa penelitian ini memprediksi bahwa sensitivitas volume perdagangan tersebut menurun setelah pengungkapan FRR No. 48.

Recent Research
Penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa volume perdagangan meningkat dengan ketidakpastian dan keragaman pendapat investor (Karpoff 1986; Kim dan Verrecchia 1994; Kandel dan Pearson 1995; Barron 1995; Bamber et.al, 1997, 1999.). Model Kim dan Verrecchia (1994) tentang likuiditas pasar dan volume perdagangan memberikan dasar konseptual untuk pengembangan hipotesis.

Kim and Verrecchia (1994)
Model Kim dan Verrecchia (1994) menangkap dua fitur yang menonjol dari pengaturan pengungkapan: ketidakpastian/uncertainty (didefinisikan sebagai ketidak-akuratan informasi publik) dan keanekaragaman pendapat/diversity of opinion (didefinisikan sebagai 1 minus korelasi antara dua informasi). Dalam model ini, pelaku pasar menerima sinyal yang berisi informasi tidak tepat tentang ketidakpastian arus kas perusahaan di masa depan, dan memutuskan apakah akan mengenakan biaya dalam pemrosesan lanjutan sinyal informasi nilai relevan. Meskipun Kim dan Verrechia (1994) (selanjutnya KV) menerapkan model mereka pada sinyal release laba yang berisi informasi tentang antisipasi arus kas perusahaan, penelitian ini menerapkan model dengan perubahan dalam sinyal nilai pasar/harga (seperti perubahan suku bunga, nilai tukar, atau harga komoditas). Pergerakan nilai pasar/harga bukan merupakan sinyal spesifik perusahaan, namun literatur sebelumnya menunjukkan bahwa hal ini memiliki implikasi spesifik perusahaan karena berhubungan dengan return ekuitas dan laba (Jorion 1990; Schrand 1997; Tufano 1998; Ahmed et.al, 2000). Penelitian ini menempatkan bahwa implikasi spesifik perusahaan dari pergerakan tersebut untuk mengantisipasi arus kas masa depan yang tidak jelas sebelum FRR No. 48, ketika investor memiliki sedikit informasi atau tidak terdapat informasi tentang eksposur bersih risiko pasar perusahaan.

Sinyal pada model KV merangsang investor untuk terlibat dalam pengolahan informasi yang mahal/mengandung biaya karena implikasi dari sinyal antisipasi arus kas perusahaan adalah untuk penafsiran. Investor karena itu merasa bahwa mereka bisa mendapatkan keuntungan informasi melalui pengolahan informasi yang mahal/mengandung biaya. Sejumlah investor memilih untuk mengeluarkan biaya guna memproses informasi, dalam upaya untuk mendapatkan keuntungan melalui perdagangan informasi, mereka merasa dapat mencapai peningkatan keuntungan informasi dari pengolahan informasi. Informasi publik kurang tepat dalam meningkatkan penerimaan return untuk menentukan implikasi sinyal spesifik perusahaan, meningkatkan kesediaan sejumlah investor untuk memproses informasi dan memperdagangkannya. Adanya potensi keuntungan dari perdagangan informasi, memungkinkan pengolahan informasi menjadi mahal/mengandung biaya, juga meningkatkan pertentangan pelaku pasar (misalnya, memiliki keragaman pendapat) tentang implikasi penilaian sinyal.

Theoritical Framework
Penelitian ini mengusulkan bahwa ketika investor belajar dari perubahan nilai pasar/harga, seperti perubahan suku bunga, mereka memutuskan apakah biaya tersebut efektif untuk mendapatkan keuntungan informasi dengan memproses informasi yang mahal/mengandung biaya untuk menentukan implikasi arus kas perusahaan dari laju/perubahan harga yang lebih baik. Review awal SEC tentang pengaruh pengungkapan FRR No. 48 yang diuraikan pada Bagian II, menunjukkan bahwa sebelum perusahaan membuat pengungkapan, terdapat kelangkaan informasi mengenai eksposur risiko pasar bersih perusahaan. Oleh karena itu, (1) implikasi arus kas perusahaan dari perubahan nilai pasar/harga cenderung tidak tepat, dan (2) karena ketidaktepatan ini, investor melakukan pengolahan informasi yang mahal/mengandung biaya terhadap perubahan nilai pasar/harga, yang kemungkinan besar informasi tersbut memiliki pendapat yang beragam (diversity of opinion) tentang implikasinya bagi nilai perusahaan. Misalnya, sebelum pengungkapan FRR No. 48, investor melihat kenaikan poin sepuluh-basis suku bunga akan cenderung memiliki penilaian yang tidak tepat dan pendapat yang beragam tentang implikasinya bagi perusahaan.

Smithson et.al,. (1995) berpendapat bahwa perubahan tingkat suku bunga, nilai tukar, dan harga komoditas secara umum mengikuti proses random-walk. Ini menunjukkan bahwa pada umumnya, investor melihat perubahan terbaru nilai pasar/harga seperti sebagai sesuatu yang permanen yang mempengaruhi besarnya harapan arus kas masa depan perusahaan. Efek potensial nilai perusahaan dari perubahan nilai pasar/harga akan meningkatkan besarnya perubahan rata-rata/harga. Jadi, atas dasar tingkat ketidakpastian dan keragaman pendapat investor tentang implikasi perubahan arus kas, manfaat yang dirasakan dari pengolahan informasi yang mahal/mengandung biaya akan meningkatkan nilai absolut perubahan. Ini berarti bahwa ketika sejumlah investor memutuskan untuk memproses perubahan nilai pasar/harga, akan diikuti meningkatnya informasi sebesar nilai absolut dari perubahan rata-rata/perubahan harga.


Penelitian ini juga berhipotesis bahwa setelah informasi FRR No. 48 tersedia, penilaian investor pada eksposur perusahaan pada perubahan nilai pasar/harga lebih tepat dan homogen daripada periode sebelum FRR No. 48. Dalam model KV, peningkatan ketepatan dan berkurangnya keragaman pendapat cenderung mengurangi manfaat yang dirasakan dari pengolahan informasi untuk setiap tingkat dari perubahan nilai pasar/harga. Dengan demikian, sejumlah investor memilih untuk terlibat dalam pengolahan informasi yang mahal/mengandung biaya dan perdagangan cenderung lebih rendah.

Dasar Pemikiran untuk Fokus pada Volume Perdagangan
Model KV menyiratkan bahwa ketidakpastian dan keragaman pendapat investor dapat mempengaruhi perubahan harga dan ukuran likuiditas pasar, seperti bid-ask spread, disamping volume perdagangan. Selain itu, Barron et.al,. (1998) menyarankan penggunaan properti analis peramalan untuk menguji pengaruh pengungkapan pada ketidakpastian dan keragaman pendapat investor.

Pengujian empiris penelitian ini berfokus pada volume perdagangan daripada ukuran lain (bid-ask-spread) dengan alasan sebagai berikut. Pertama, literatur sebelumnya (Bamber dan Cheon 1995; Barron 1995; Kandel dan Pearson 1995; Bamber et.al, 1997, 1999.) mencatat hubungan yang reliabel antara volume perdagangan dan ketidakpastian dan keragaman pendapat investor (juga disebut perselisihan). Literature tersebut juga mencatat bahwa pertentangan dan/atau perbedaan pendapat yang berkaitan dengan volume perdagangan dapat terjadi tanpa adanya perubahan harga. Sebagai contoh, Bamber dan Cheon (1995) menemukan bahwa pengumuman laba merangsang volume perdagangan yang relatif lebih tinggi terhadap besarnya perubahan harga absolut yang terkait dengan perbedaan yang lebih besar dalam analisis peramalan laba sebelum pengungkapan. Temuan ini menunjukkan bahwa ketidakpastian dan / atau keragaman pendapat investor cenderung berhubungan lebih kuat dengan volume dibandingkan dengan perubahan harga. Kedua, bid-ask spread menyediakan hanya ukuran kasar dari likuiditas pasar (Callahan et.al,. 1997).

Ketiga, karena analis tidak meng-update peramalan laba harian, tidak mungkin untuk menyesuaikan revisi peramalan laba dengan perubahan harian nilai pasar/harga, seperti yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Akhirnya, perubahan nilai pasar/harga dapat mempengaruhi nilai perusahaan dan arus kas masa depan yang diharapkan tanpa mempengaruhi laba periode berikutnya. Sebagai contoh, perubahan nilai pasar/harga dapat mengubah kemungkinan perkiraan nilai transaksi yang terjadi di luar tahun berjalan. Demikian pula, perubahan yang mempengaruhi nilai wajar instrumen keuangan yang dicatat sebesar biaya historis, tidak mampu mendekati revisi peramalan laba kecuali analis tersebut memperkirakan perusahaan akan menjual instrumen dalam waktu dekat. Properti model akuntansi lebih lanjut mengurangi kegunaan peramalan analis dalam setting penelitian ini.

Sebagai alasan, penelitian ini percaya bahwa sensitivitas volume perdagangan pada perubahan nilai pasar/harga adalah ukuran yang paling tepat untuk menguji hipotesis penelitian ini. Penelitian ini tetap mengakui bahwa volume perdagangan adalah noisy proxy untuk ketidakpastian dan keragaman pendapat. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa proxy untuk pertentangan (disagreement) secara signifikan berhubungan dengan volume perdagangan, namun kekuatan penjelas dari model tersebut rendah, dengan R2 kurang dari 20 persen (misalnya Barron 1995; Bamber et.al, 1997, 1999). Selain itu, investor berdagang untuk alasan lain selain ketidakpastian investor atau keragaman pendapat (misalnya, portfolio rebalancing, likuiditas).

Quantitative Market Risk Disclosure

Jan 1, 2012 0 comments
Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) telah menerbitkan Release Laporan Keuangan No 48 (SEC 1997, yang selanjutnya disebut “FRR No. 48”), yang memandatkan pengungkapan risiko pasar kuantitatif ke depan dalam 10-K report perusahaan. FRR No. 48 mendefinisikan risiko pasar sebagai risiko kerugian berkaitan dengan perubahan yang merugikan (adverse changes) dalam nilai pasar atau harga, seperti suku bunga, nilai tukar, dan harga komoditas. Setelah publikasi terkait dengan kerugian derivatif pada 1990-an, FRR No. 48 menanggapi banding dari investor dan konstituen lain untuk pengungkapan publik yang disempurnakan dari eksposur perusahaan terhadap risiko pasar (Linsmeier dan Pearson, 1997). Studi ini memberikan bukti yang berkaitan dengan klaim SEC (1997) bahwa Disclosure FRR No. 48 memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor.

Disclosure FRR No. 48 dapat bermanfaat bagi investor setidaknya dalam dua cara. Pertama, pada release 10-K report, investor dapat menggunakan kandungan informasi dalam pengungkapan untuk merevisi atau mengkonfirmasi harapan mereka tentang eksposur perusahaan pada tingkat suku bunga, nilai tukar, dan/atau perubahan harga komoditas. (Selanjutnya mengacu pada perubahan secara kolektif “perubahan nilai pasar/harga”). Sejauh bahwa pengungkapan mengubah ekspektasi pasar, hal ini dapat menyebabkan perubahan harga saham perusahaan, risiko sistematis, atau sensitivitas harga saham pada perubahan nilai pasar/harga dalam satu waktu. Kedua, investor dapat menggunakan estimasi revisi mereka tentang eksposur risiko penilaian implikasi nilai perusahaan atas perubahan nilai pasar/harga yang terjadi setiap saat setelah tanggal release 10-K. Penggunaan informasi yang terkandung dalam pengungkapan FRR No. 48 secara terus menerus akan mengurangi ketidakpastian dan keragaman pendapat investor tentang implikasi perubahan nilai pasar/harga dari nilai perusahaan, model teoritis Kim dan Verrecchia's (1994) menunjukkan bahwa seharusnya mengamati kurang sensitifnya volume trading terhadap perubahan nilai pasar/harga setelah tanggal release 10-K.

Deskripsi FRR No. 48
Pengantar FRR No. 48 menyatakan bahwa pengungkapan “dirancang untuk memberikan informasi tambahan mengenai sensitivitas instrumen risiko pasar, dimana investor dapat menggunakan pemahaman yang lebih baik dan mengevaluasi eksposur risiko pasar registran” (SEC 1997, 3). SEC mempunyai kaitan dengan penyediaan full dan fair disclosure pada investor individu dan memastikan bahwa mereka “berada pada tingkat permainan lapangan dengan insider pasar” (SEC 2000, 2) karena “today’s self-directed, investor online tidak berharap untuk bergantung secara eksklusif pada penelitian dan analisis yang dilakukan oleh para profesional” (SEC 2000, 3). Dalam FRR No. 48, SEC berjanji untuk memonitor efektivitas persyaratan pengungkapan dan mengubahnya jika sesuai. Hal tersebut juga dijanjikan Kongres bahwa mereka akan melakukan penelaahan dampak pengungkapan risiko pasar setelah tiga tahun berlalu. Sementara review berlangsung, terdapat literatur akademis yang tidak meyakinkan apakah pengungkapan risiko pasar berguna bagi investor.

Literatur ekonomi keuangan menunjukkan bahwa pengungkapan risiko pasar dapat mengurangi asimetri informasi antara manajer dan investor, jika perusahaan mengelola risiko untuk alasan yang tidak transparan kepada investor. Dalam pasar modal yang sempurna, hedging tingkat-perusahaan atas suku bunga, nilai tukar, atau harga komoditas tidak efisien karena investor dapat mendiversifikasi risiko tersebut menurut preferensi risiko mereka sendiri (DeMarzo dan Duffie 1991). Dalam pasar yang tidak sempurna, manajemen risiko perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dalam beberapa cara. Hal ini termasuk mengurangi antisipasi pembayaran pajak, mengurangi kemungkinan biaya financial distress, melindungi investasi, menanggapi penghindaran risiko manajerial, dan meningkatkan penerimaan nilai perusahaan oleh tren peningkatan perataan laba (Smith dan Stultz 1985; Nance et.al, 1993; DeMarzo dan Duffie 1995; Mian 1996; Tufano 1996; Barth et.al, 1999). Jika investor tidak secara langsung mengamati aktivitas manajemen risiko, kemudian pengungkapan eksposur kuantitatif ke depan (forward looking) yang dihasilkan dari kegiatan tersebut memiliki potensi untuk menyampaikan informasi yang berguna bagi pasar dan meningkatkan pemahaman investor tentang eksposur risiko pasar perusahaan.

FRR No. 48 mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi risiko pasar kuantitatif dalam pengajuan 10-K untuk setiap kategori material risiko pasar (misal, risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko harga komoditas). Dalam setiap kategori risiko, FRR No. 48 memungkinkan perusahaan untuk menampilkan informasi risiko pasar kuantitatif dengan menggunakan tiga format alternatif:
  • Tabel Penyajian (tabular presentation) nilai wajar dan dokumen kontrak yang memadai untuk menentukan sensitivitas instrumen risiko pasar jumlah arus kas masa depan dengan tanggal jatuh tempo yang diharapkan.
  • Analisis Sensitivitas (sensitivity analysis) yang menggambarkan kemungkinan pengaruhnya pada laba, arus kas, atau seleksi nilai wajar, hipotesis perubahan nilai pasar/harga.
  • Value-at-risk (VAR) disclosure mengekspresikan potensi kerugian dalam laba, arus kas, atau nilai wajar dari perubahan nilai pasar/harga dengan probabilitas yang terjadi.
Perusahaan dapat menggunakan format pengungkapan kuantitatif yang berbeda di seluruh kategori eksposur. Lampiran memberikan contoh dari setiap format pengungkapan.

Konsisten dengan tujuan mandating disclosure yang berhubungan dengan semua sensitivitas instrumen risiko pasar, FRR No. 48 mensyaratkan Disclosure risiko pasar 10-K yang melekat dalam derivatif dan lainnya, termasuk instrumen keuangan nonderivative dalam ruang lingkup SFAS No. 107 (FASB 1991a), misalnya, investasi, pinjaman, catatan terstruktur, dan kewajiban utang. FRR No. 48 (SEC 1997, Bagian II) mengingatkan registran SEC bahwa eksposur risiko pasar mungkin timbul dari instrumen dan posisi yang berada di luar cakupan eksplisit dari aturan, seperti posisi komoditas dan arus kas dari antisipasi transaksi. Hal ini mendorong perusahaan untuk memasukkan instrumen dan posisi tersebut dalam pengungkapan mereka secara sukarela atau untuk membahas pengecualian mereka sebagai keterbatasan pengungkapan.

SEC mensyaratkan dua kelompok perusahaan, yang dianggap paling familiar dengan ukuran dan pengelolaan risiko pasar, untuk mematuhi FRR No. 48 dalam tahun fiskal yang berakhir setelah 15 Juni 1997: (1) Bank dan thrift institution, serta (2) perusahaan non finansial dengan kapitalisasi pasar modal melebihi $2.500.000.000 pada 28 Januari 1997. Semua perusahaan-perusahaan lain harus mematuhi FRR No. 48 dalam catatan SEC untuk tahun fiskal yang berakhir setelah 15 Juni 1998. Penelitian ini fokus pada pengungkapan 10-K yang pertama dari perusahaan non finansial yang disyaratkan untuk mematuhi FRR No. 48 dalam tahun fiskal yang berakhir setelah 15 Juni 1997.

Penelitian ini mengevaluasi pengaruh tambahan FRR No. 48 mengingat persyaratan pengungkapan yang mendahuluinya. Pada tahun 1997, pembuat standar akuntansi telah mempertimbangkan laporan keuangan perusahaan untuk instrumen keuangan untuk hampir setiap dekade. Beberapa kerugian terkait derivatif yang dipublikasikan pada tahun 1994 mempercepat laju pernyataan akuntansi (Baliga 1994; Loomis 1995). Namun, bahkan setelah penerbitan SFAS No 119 (FASB 1994d), pernyataan dimaksudkan untuk meningkatkan pengungkapan perusahaan tentang derivatif, melakukan kajian internal terhadap sekitar 500 pengajuan 10-K (SEC 1995) menemukan dua kekurangan dalam pengungkapan risiko pasar:
  1. Kekurangan kualitatif: Sebelum FRR No 48, hanya diamanatkan pengungkapan risiko pasar forward-looking yang bersifat kualitatif, dan tergolong hanya untuk instrumen keuangan derivatif yang diterbitkan untuk tujuan lain selain perdagangan. Untuk instrumen ini, SFAS No. 119 membutuhkan pengungkapan “tujuan entitas untuk memegang atau menerbitkan instrumen keuangan derivatif, konteks yang diperlukan untuk memahami tujuan tersebut, dan strategi umum untuk mencapai tujuan tersebut” (FASB 1994d, par.11a). Namun, dengan memfokuskan pada derivatif tertentu dalam isolasi, pengungkapan tersebut tidak memberikan investor pemahaman yang lengkap tentang tujuan dan strategi manajemen risiko perusahaan. FRR No. 48 mengarahkan penghilangan ini dengan mewajibkan pengungkapan informasi kualitatif serupa untuk seperangkat instrumen yang lebih luas, termasuk instrumen keuangan non-derivative dan instrumen komoditas derivatif.
  2. Kekurangan kuantitatif: Sebelum FRR No. 48, pengungkapan kuantitatif terkait dengan sensitivitas instrumen risiko pasar sangat terbatas. SFAS No. 119 memandatkan pengungkapan dalam jumlah yang tidak tetap dari instrumen keuangan derivatif (FASB 1994d, par. 8b), sedangkan Aturan 5-02 regulasi S-X mensyaratkan pengungkapan sifat dan jangka waktu kewajiban utang. SEC mencatat bahwa informasi tersebut: (i) sering disingkat, (ii) disajikan sedikit demi sedikit dalam bagian yang berbeda dari laporan keuangan, dan (iii) tidak berlaku untuk semua instrumen risiko pasar yang sensitif. Dengan demikian, investor sering tidak dapat menilai apakah atau bagaimana instrumen keuangan dan komoditas tertentu mempengaruhi eksposur risiko pasar bersih registran. (SEC 1995, bagian IIIB1)


Sebelum FRR No. 48, investor memiliki ketidak-cukupan informasi untuk menilai eksposur risiko pasar perusahaan. PSAK No 119 mendorong, tetapi tidak mensyaratkan, pengungkapan informasi kuantitatif mengenai risiko pasar yang melekat pada instrumen keuangan derivatif dan instrumen keuangan lainnya. Menurut SEC, sebelum FRR No 48, perusahaan hampir tidak pernah mengungkapkan informasi tersebut secara sukarela (SEC 1995, Bagian IIIB1a). Informasi kuantitatif tentang risiko pasar yang melekat pada posisi non-derivatif sangat terbatas, sehingga sulit untuk menilai bagaimana mengubah eksposur bersih derivatif perusahaan pada perubahan nilai pasar/harga. Hasil survei terhadap investor dan kreditur, Panitia Khusus AICPA's pada Pelaporan Keuangan menyatakan, “pengguna mengeluh bahwa laporan bisnis tidak menjawab pertanyaan penting, seperti: Apa instrumen [inovasi keuangan] perusahaan, dan apa syarat mereka? Apakah resiko perusahaan telah dialihkan atau diambil?” (AICPA 1994, 76). FRR No. 48 berusaha untuk memperbaiki kekurangan tersebut dengan memandatkan ke depan, pengungkapan kuantitatif tentang eksposur bersih perusahaan untuk risiko pasar.

Sebaliknya, kritik FRR No. 48 menyebutkan dua alasan utama bahwa pengungkapan tidak mungkin informatif. Pertama, manajer dapat memilih format pengungkapan kuantitatif dan dapat mendasari pengungkapan mereka pada asumsi questionable tentang peristiwa dan tindakan masa depan. Pada Januari 1997 memo internal dari Kepala Ekonomi SEC menunjukkan bahwa subjektivitas dalam pengukuran risiko kuantitatif memungkinkan manajer untuk memberikan gambaran yang keliru mengenai eksposur risiko pasar bersih perusahaan, yang berpotensi menyesatkan investor (Beckett 1997; Logan dan Montgomery 1997). Kedua, investor cenderung memiliki kesulitan memproses probabilitas informasi yang terkandung di beberapa Disclosure FRR No. 48 dan membandingkan eksposur pengungkapan tabular, sensitivitas, dan VAR perusahaan (Hodder et.al, 2001.). Oleh karena itu, kritik FRR No. 48 berpendapat bahwa pengungkapan tidak dapat memperbaiki “penilaian investor” pada eksposur risiko pasar perusahaan.

Pada bulan Juli 1998, staf SEC melaporkan kepada Kongres pada tahun pertama pengajuan FRR No. 48, termasuk hasil survei sejumlah analis dan investor mengenai pengalaman mereka dengan FRR No. 48. Tanggapan menunjukkan bahwa pengungkapan memberikan informasi baru dan berguna. Laporan staf SEC menyatakan, “Investor mengantisipasi bahwa di masa depan mereka akan membandingkan pengungkapan risiko pasar registran dengan hasil aktual, pengungkapan masa lalu registran dan pengungkapan registran lain” (SEC 1998, 9-10). Namun, survey responden juga menyatakan bahwa “terlalu dini untuk mengatakan apakah pengungkapan menghasilkan pasar yang lebih efisien” (SEC 1998, 2).

Accounting Conservatism, Earning Quality and Return of Share

Dec 17, 2011 0 comments
Conservatism sebagai praktik untuk mengurangi earning (dan menurunkan net asset) sebagai respon terhadap "bad news"), tetapi tidak menaikkan earning (dan menaikkan nilai net asset) sebagai respon terhadap “good news” (Basu, 1997). Dalam literatur penilaian berdasar akuntansi, sering merujuk pada karakterisasi Feltham dan Ohlson (1995) mengenai konservatif atau “biased” accounting sebagai harapan bahwa net asset yang dilaporkan lebih kecil daripada nilai pasar dalam jangka panjang. Definisi tersebut mengklasifikasikan akuntansi pada net present value positif yang diantisipasi nilai investasi pada cost histories sebagai akuntansi konservatif, sebab analis berharap bahwa investasi tersebut dibawah pada nilai yang lebih rendah daripada nilainya.

Konservatisme, Invstasi, Accounting Rate of Return dan Kualitas Earning
Beaver dan Ryan (2000) berpendapat conservatism atau bias sebagai perbedaan antara nilai pasar dan nilai buku, dari perbedaan sementara pada economic gains and losses dalam nilai buku secara berangsur-angsur dari waktu ke waktu. Gjesdal (1999) membedakan profitabilitas ekonomi dari profitabilitas akuntansi. Dia menandai akuntansi sebagai konservatif jika investasi membawa nilai yang menghasilkan suatu rate of return akuntansi yang lebih besar daripada internal rate of return pada cost-nya. Oleh karenanya, sebagai contoh akuntansi konservatif membawa asset yang nilainya sama dengan historical cost-nya (a zero net present value investment) pada kurang dari historical cost, adalah pada kasus pembebanan biaya R&D dan biaya musiman.

Pemahaman mengenai conservatism dalam studi ini mengikuti definisi terakhir bahwa akuntansi conservatism adalah penerapan yang bias dari historical cost accounting. Terdapat pertimbangan bahwa satu praktik akuntansi (akuntansi LIFO) lebih konservatis daripada praktik akuntansi yang kedua (akuntansi FIFO), jika yang pertama menghasilkan akumulasi earning yang lebih rendah (karena pembebanan biaya yang lebih cepat) dan konsekuensinya membawa nilai lebih rendah dibanding yang kedua.

Efek Konserfatisma Dan Investasi Pada Rate of Return
Efek dari conservatism akuntasi pada rate of return adalah sangat jelas. Dalam jumlah asset tidak menggunakan melebihi periode, karena konservatisme tidak mempunyai efek terhadap perhitungan dari tingkat pengembalian. Greenball (1969) memperlihatkan bahwa akuntansi konservatif (bias) berinteraksi dengan pertumbuhan; akuntansi konservatif mengurangi earning saat terdapat pertumbuhan dan net asset sehingga accounting rate of return lebih rendah daripada jika tidak terdapat pertumbuhan. Beaver dan Ryan (2000) dan Zhang (2001) memberikan model interaksi antara conservatism dan pertumbuhan dalam konteks evaluasi.

Indeks Konservatism dan Kualitas Earning
Indeks pertama menilai tingkat dimana perusahaan menerapkan akuntansi konservatif. Ineks kedua menilai kualitas earning yang dihasilkan dari joint effect conservatism dan perubahan aktivitas investasi.

Indeks Konservatism (C Score)
C-score mengukur efek dari akuntansi konservatif pada neraca. C-score diukur pada tingkat cadangan yang diestimasi yang diciptakan oleh konseratism, ER relatif terhadap net operating assets,

Cit = ER / NOAit

Subscript i mengindikasikan perusahaan dan t mengindikasikan tanggal neraca. Net operating assets, NOA adalah nilai buku dari operating assets dikurangi operating liabilities. C-score yang lengkap menghitung cadangan yang tidak tercatat yang diciptakan melalui seluruh item operasi di neraca. Studi ini berusaha membedakan pengaruh kualitas earning yang muncul dari perubahan estimasi dari pengaruh kualitas earning yang berasal dari kebjakan akuntansi yang permanen dan perubahan investasi. Karena studi ini tidak dapat membedakan antara kedua pengaruh tersebut untuk item-item neraca (yang juga merupakan subyek estimasi manajemen), maka studi ini membangun C- score berdasar pada perlakuan akuntansi terhadap tiga bentuk investasi dimana akuntansi relatif aman dari penyimpangan setelah pengeluaran (expenditure) terjadi: Inventory, R&D dan Advertizing.

Cit = (INVit + RDit + ADVit) / NOAit

Indikator Kualitas Earning (Q-Score)
C-Score mengukur efek akuntansi konservatif pada neraca, sedangkan Q-score mengukur efek akuntansi konservatif pada earning di laporan laba rugi. Q-Score adalah kombinasi dari dua ukuran. Ukuran pertama Qit A.

QitA adalah perubahan dalam skor konservatif perusahaan Cit sehingga skor QA perusahaan adalah positif jika perusahaan membangun cadangan pada tingkat yang lebih cepat daripada pertumbuhan dalam net operating assets dan negatif jika membangun cadangannya pada tingkat yang lebih lambat. Ukuran kedua, Qit B membandingkan C-Score perusahaan dengan median SIC kode industri dua digit.
Qit B = ( ERit / NOAit ) – Median Industri ( ERit-1 / NOAit-1 )

Q-score mengkombinasikan dua ukuran tersebut.
Qit = (0,5 x Qit A) + (0,5 x QitB)


Sthepen H Penman & Xiao Jun Zhang